Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa


Hadir dan menyebarnya Islam di pulau Jawa dapat dibuktikan dengan adanya data arkeologis dan sumber-sumber babad, hikayat, legenda, serta berita-berita asing. Islam hadir melalui kota-kota Pelabuhan, Gresik salah satu contohnya. Terdapat nisan di Leran yang memuat nama Fatimah binti Maimun bin Hibatullah (wafat 475 H/1082 M). Lalu di Gresik juga terdapat makam Maulana Malik Ibrahim (wafat 822 H/1419 M) sedangkan di Troloyo dan Trowulan yang diperkirakan sebagai pusat kerajaan Majapahit juga ditemukan beberapa nisan kubur Islam yang berangka tahun saka dari abad ke-13-15 M.

Proses Islamisasi yang terjadi dari pesisir utara Jawa dari bagian timur sampai ke barat memunculkan kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam. Dimulai dari Demak hingga kerajaan di daerah Jawa bagian barat seperti Cirebon dan Banten. Dari pedalaman Demak pun muncul kerajaan, yaitu kerajaan Pajang.

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak mempunyai letak yang strategis, dan kondisi alamnya subur. Pada awal mulanya lokasi kerajaan Demak adalah sebuah kampung yang bernama Gelagahwangi. Di Gelagahwangi itulah Raden Patah menjadikannya suatu pemukiman muslim yang dimana ia sebagai pemimpinnya atas petunjuk Sunan Ampel. Raden Patah adalah putra dari raja Brawijaya dan ibunya merupakan putri Cina (Cempa). Ketika dalam kandungan, ia dititipkan kepada Gubernur di Palembang, dan di tempat itulah Raden Patah lahir.

Gelagahwangi kemudian tumbuh dan berkembang menjadi pusat kerajaan Islam yang pertama di pulau Jawa sejak akhir abad ke-15 M, bertepatan dengan menghilangnya eksistensi kerajaan Majapahit dibawah pimpinan Wangsa Girindrawardhana dari kerajaan Kadiri pada tahun 1474 M. Babad lokal menempatkan keruntuhan Majapahit tahun 1478 M dengan candrasengkalanya Sirna Hilang Kertaning Bhumi (1400 Saka).

Berdasarkan berita Tome Pires (1512-1515) Demak merupakan kota besar dengan jumlah rumah, yaitu kurang lebih 8.000 sampai 14.000. Penguasa Demak pada saat itu adalah Pate Rodim dan kakeknya berasal dari Gresik. Dari berita Tome Pires diketahui pada saat itu di daerah pedalaman masih terdapat kerajaan yang bercorak Hindu dengan rajanya Batara Virgiaya dan patihnya, yaitu Gusti Pate. Batara Virgiaya yang dimaksud oleh Tome Pires yaitu Brawijaya seperti yang  disebutkan dalam babad-babad. Brawijaya meninggalkan pusat kerajaan Majapahit dan pindah ke Daha atau Kadiri sebelum akhirnya jatuh pada 1526 pada kerajaan Islam Demak.

Raja kedua yang memerintah Demak adalah Pangeran Sabrang Lor. Pemerintahannya cukup singkat. Dalam berita Tome Pires disebutkan bahwa ada seseorang yang bernama Pate Unus yang mengadakan serangan ke Malaka pada tahun 1513 dengan armadanya yang berangkat dari Jepara. Jepara merupakan tempat pelabuhan bagi kerajaan Demak. H.J. de Graaf berpendapat bahwa raja kedua yang disebutkan oleh Tome Pires ialah Pate Rodim, yaitu orang yang tegas dalam mengambil keputusan dan seorang kesatria, bangsawan, dan teman seperjuangan Pate Zaenal dari Gresik.

Raja yang ketiga adalah Pangeran / Sultan Trenggana. Ketika Tome Pires ke Demak, Sultan Trenggana disebut Pate Rodim Jr. (Muda). Ia meluaskan kekuasaanya hingga ke Jawa bagian barat yang dipimpin oleh Fadhillah Khan yang berasal dari Pasai untuk menyerang Kalapa pada tahun 1527. Sebelum menyerang Kalapa, mereka singgah di Cirebon. Berdasarkan saran mertuanya, yaitu Sunan Gunung Jati, mereka menggabungkan kekuatan pasukan Demak dengan pasukan Cirebon.

Dari arah barat Pelabuhan Kalapa diserang sehingga berhasil memukul mundur Portugis dibawah pimpinan Fransisco de Sa dan akhirnya Kalapa dapat direbut oleh Fadhillah Khan. Kemudian Kalapa diganti namanya menjadi Jayakarta. Tidak hanya meluaskan kekuasaan politiknya ke arah barat, tetapi juga ke arah timur yang masih bercorak Hindu, seperti Kadiri, Tuban, Wirasari, Gagelang (Madiun), Lendangkungan, Surabaya, Pasuruan, Panurakan, Lamongan, Blitar, Wirasaba, Gunung Penanggungan, Mamenang Thanu, Sengguruh dan juga Balambangan tetapi gagal dan Sultan Trenggana gugur sehingga kerajaan Balambangan belum Islam.

Raja-raja Demak dikenal sebagai pelindung agama sehingga hubungan antara raja-raja dengan Wali Sanga sangatlah erat. Pendirian Masjid Agung Demak tidak lepas dari sentuhan tangan para wali. Sunan Kali Jaga berperan sebagai arsitek dari pembangunan Masjid Agung Demak yang kelak nantinya digunakan sebagai tempat dakwah para wali. Dalam Hikayat Hasanuddin, tercatat bahwa ada beberapa orang yang pernah menjadi imam Masjid Agung itu, seperti Pangeran Bonang, Makdum Sampang, Kiai Pembayun, dan Penghulu Rahmatullah.

Kerajaan Pajang

            Setelah kematian Sultan Trenggana, terjadi perebutan kekuasaan di kerajaan. Perebutan itu terjadi di kalangan putra dan putrinya. Pangeran Trenggana mempunyai enam putra dan putri, yaitu Pangeran Mukmin yang diangkat menjadi wali oleh Sunan Giri dengan gelar Sunan Prawata; Putri yang menikah dengan Pangeran Langgar, putra Kyai Gede Sampang di Madura; putri yang menikah dengan Bupati Pajang Hadiwijaya (Jakatingkir); putri yang menikah dengan Panembahan Pasarean, putra Sunan Gunungjati; Pangeran Timur yang kemudian menjadi bupati di Madiun.

Akibat dari adanya perebutan kekuasaan yang terjadi, di kalangan wali sanga terjadi pula perdebatan karena masing-masing menjadi pendukung untuk pengangkatan penguasa-penguasa. Setelah Sultan Trenggana digantikan oleh Sunan Prawoto, ia kemudian dibunuh oleh Arya Penangsang dari Jipang pada tahun 1549. Ketika Arya Penangsang menjalankan roda pemerintahan, ia kemudian dibunuh oleh ipar Sunan Prawoto, yaitu Jaka Tingkir.

Jaka Tingkir merupakan murid Ki Ageng Pengging yang semula merupakan tamtama di kerajaan Demak dibawah pemerintahan Pangeran Trenggana, namun karena keahliannya ia dijadikan menantu oleh Sultan Demak. Setelah berhasil membunuh Arya Penangsang, ia menjadi Sultan Pajang dengan gelar Sultan Hadiwijaya. Perluasan kekuasaan dilakukan sehingga daerah di sekitarnya seperti Jipang dan Demak sendiri mengakui kekuasaan kerajaan Pajang. Daerah di utara seperti Jepara, Pati, hingga Banyumas juga mengakui keuasaan Pajang.

Setelah Sultan Hadiwijaya wafat pada 1587, tahta digantikan kepada putranya, yaitu Pangeran Benawa. Pada masa pemerintahannya ia kehilangan daerah Mataram karena pada masa pemerintahan ayahnya, daerah tersebut diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan, yaitu anak Ki Ageng Ngenis atas jasanya dalam pembunuhan Sunan Prawata. Peralihan pusat kerajaan dari Demak kemudian ke Pajang sampai ke Mataram merupakan pergeseran pusat pemerintahan yang semula di daerah pesisir menuju ke daerah pedalaman sehingga terjadi perubahan sifat kerajaan, yang semula maritim menjadi agraris.

Kerajaan Mataram

            Kerajaan Mataram terletak di daerah yang subur, yaitu di antara Kali Opak dan Kali Praga yang airnya mengalir hingga ke Samudra Hindia. Kerajaan Mataram ini didirikan diatas tanah yang merupakan hadiah dari Sultan Hadiwijaya kepada Ki Ageng Pamanahan. Kerajaan Mataram ini didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan pada tahun 1578. Tak lama mendiami keraton, akhirnya pada 1584 Ki Ageng Pamanahan wafat dan digantikan oleh putranya, yaitu Senapati ing Palaga yang pada masa mudanya bergelar Ngabehi Loring Pasar. Senapati ing Palaga adalah menantu Sultan Pajang atau Sultan Hadiwijaya. Menurut Babad Tanah Jawi, meskipun Panembahan Senapati tidak suka menghadap Sultan Pajang, tetapi ketika Sultan Pajang wafat, ia hadir pada pemakaman sultan.

            Pada masa pemerintahan Panembahan Senapati, perluasan daerah kekuasaan dilakukan, yaitu di pesisir utara, jawa bagian timur, dan jawa bagian barat. Kerajaan Pajang yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram, berubah menjadi kadipaten yang dipimpin oleh putra Sultan Hadiwijaya, yaitu Pangeran Benawa. Selain itu, daerah yang dikuasai adalah Demak yang kemudian ditempatkan seorang dari Yuwana, Kedu, Bagelen, Madiun pada 1590, Surabaya, dan Kadiri.

Perluasan kekuasaan di daerah barat meliputi Priangan Timur dan Kesultanan Cirebon. Hubungan antara Mataram dan Cirebon pada masa pemerintahan Panembahan Ratu bukanlah penaklukkan, melainkan hubungan persahabatan. Maka dari itu, konon benteng kota Cirebon dibuat dengan bantuan  Panembahan Senapati ing Alaga dan pada 1684 benteng tersebut masih dapat dikenali serta telah didirikan sebelum tahun 1596. Mengenai benteng tersebut, pada pelayaran pertama bangsa Belanda tahun 1596 benteng kota Cirebon itu masih diceritakan.

Menurut Babad Sangkala diceritakan bahwa Panembahan Senapati ing Alaga wafat pada tahun 1601 M dan juga diceritakan tentang perpindahan Adipati Puger ke Demak. Pemerintahan Sultan Agung dapat dikatakan sebagai masa awal kebangkitan dan puncaknya terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyakrakusuma, yaitu cucu dari Panembahan Senapati ing Alaga.

Setelah Panembahan Senapati ing Alaga wafat, kedudukan di pemerintahan digantikan oleh putranya, yaitu Pangeran Jolang. Putra dari selir asal Putri dari Pati. Pemerintahannya berlangsung sejak 1601 sampai 1613. Pada masa pemerintahannya ia menyempurnakan pembangunan kota yang dikenal dengan Kota Gede termasuk pembuatan Taman Danalaya, kolam (segaran), dan kompleks pemakaman Kota Gede. Pangeran Jolang wafat di tempat perburuan, yaitu di Krapyak, maka dari itu ia terkenal pula dengan gelaran Panembahan Seda ing Krapyak.

Selanjutnya pemerintahan digantikan oleh cucu Panembahan Senapati ing Alaga, yaitu R.M. Jatmiko atau Pangeran Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Senapati ing Alaga. Pada masa pemerintahannya, ada beberapa daerah yang semula berada dibawah kekuasaan Mataram, berusaha untuk melepaskan diri. Sehingga Sultan Agung Senapati ing Alaga melakukan penyerangan kepada Surabaya, Pati, Giri, dan Balambangan. Mataram juga mengadakan hubungan dengan VOC yang sudah dirintis Panembahan Seda ing Krapyak tahun 1613. Tetapi hubungan antara Mataram dan VOC memburuk pada 1624. Sultan Agung menganggap VOC berusaha melakukan kolonialismenya yang mengancam kekuasaan politik kerajaan Mataram. Akhirnya Mataram mengirim pasukan-pasukannya di bawah pimpinan panglima-panglimanya. Usaha pertama yang dilakukan untuk mengusir VOC di Batavia terjadi pada tahun 1628 tetapi aggal, begitu pula halnya yang terjadi pada tahun 1629.

Penyerangan yang dilakukan oleh Mataram untuk mengepung Batavia dalam rangka menaklukkan Kembali daerah-daerah dilakukan melalui daratan dan lautan. Meskipun kerajaan Mataram Islam menjadi kerajaan agraris, tetapi kerajaan tersebut juga mengembangkan kegiatan ekspor dan impor komoditas-komoditas melalui pelabuhan Japara, Kendal, dan Tegal. Kegiatan ekspor dari Mataram, yaitu beras merupakan monopoli perdagangan kerajaan yang ditangani oleh para tumenggung.

Sultan Agung melakukan beberapa pembangunan, seperti pendirian kota yang dipusatkan di Plered, pembangunan kompleks pemakaman di Girilaya, pembangunan makam di Bukit Merak yang kemudian dikenal dengan makam Imogiri.

Dalam segi keagamaan, masanya cenderung mengadakan perimbangan antara agama Islam dan agama Hindu. Ia membuat kalender tahun Jawa dengan perhitungan antara tahun Hijriah dengan tahun Saka dapat diterima oleh masyarakat Jawa dan sampai sekarang disebut dengan penanggalan Jawi. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dimakamkan di Imogiri.

Pengganti berikutnya, yaitu putra dari Sultan Agung Mataram yang bernama Amangkurat dengan gelar Sultan Amangkurat Senapati ing Alaga Ngabdur Rahman Sayidin Panatagama atau disebut juga Amangkurat I. Menurut Babad ing Sengkala, Amangkurat I memindahkan keraton dari Kota Gede ke Plered pada tahun 1647 M. Dalam Babad Tanah Jawi, diceritakan bahwa pada masa pmerintahan Amangkurat I terjadi pemberontakan Trunojoyo serta tindakan tercelanya yaitu melakukan perintah pembunuhan kepada siapa saja yang mengganggu kekuasaannya, seperti kepada para pejabat, ulama, termasuk kepada adiknya sendiri.

Sunan Amangkurat I lebih dekat kepada VOC untuk mencari dukungan ketimbang dekat kepada rakyat kerajaannya sendiri. Kedekatan itu sebagai bukti perjanjian antara Mataram dan VOC yang hakikatnya yaitu Mataram mengakui kekuasaan VOC dan VOC mengirimkan utusannya untuk datang ke Mataram setiap tahun. Kedekatan antara VOC dan Mataram menyebabkan banyaknya campur tangan politik yang terjadi di Kerajaan Mataram. Permusuhan antara Sunan Amangkurat I dengan Pangeran Adipati Anom menambah ketidaksenangan pejabat dan masyarakat Mataram.

Pemberontakan kepada Amangkurat I diawali oleh Pangeran Trunajaya dengan bantuan Pangeran Kajoran beserta para pejabat dan masyarakat Mataram yang sudah mulai tertekan. Akhirnya Amangkurat I mengungsi ke luar kota dan menuju Banyumas, dengan tujuan Cirebon untuk meminta bantuan kepada VOC. Tetapi sesampainya di Wanasaya, ia jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 10 Juli 1677. Jenazahnya kemudian dibawa ke Tegalwangi untuk dimakamkan. Ia mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai penerusnya dengan gelar Amangkurat II.

Sejak masa pemerintahan Amangkurat I hingga Perang Giyanti pada 1755, kerajaan Mataram Islam terus dipengaruhi oleh VOC. Melalui perjanjian Giyanti itulah kerajaan Mataram Islam dipecah menjadi Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kasunanan Surakarta (Solo).

Kerajaan Cirebon

            Kerajaan Cirebon yang semula termasuk ke dalam kekuasaan kerajaan Sunda Pajajaran ketika Tome Pires datang sudah menjadi bagian dari kekuasaan kerajaan Demak. Penguasa di Cirebon, yaitu Lebe Usa sebagai bawahan Pate Rodim. Cirebon menghasilkan komoditas ekspor seperti beras dan banyak bahan lainnya. Penduduk Cirebon mencapai 1.000 orang Pate Quitir yang dahulu memberontak di Kampung Upeh, berdiam di Cirebon sebagai pedagang besar yang dihormati oleh pedagang lainnya dan bahkan seorang raja Cirebon.

            Tome Pires mengatakan bahwa Islam sudah memasuki wilayah Cirebon 40 tahun sebelum Tome Pires datang. Apabila di estimasi kedatangan Islam di Cirebon, yaitu antara tahun 1470-1475 M. Kedatangan Islam pada masa itu dapat dibandingkan dengan sumber lokal, yaitu Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari karya Pangeran Arya Cirebon tahun 1720 M. Dalam naskah ini disebutkan bahwa pada tahun1470 M, Syarif Hidayatullah datang ke Cirebon untuk mengajarkan agama Islam di Gunung Sembung bersama dengan uaknya Haji Abdullah Iman yang telah tinggal terlebih dahulu di Cirebon.

            Syarif Hidayatullah menikah dengan Pakungwati, yaitu putri uaknya dan setelah menikah ia menggantikan mertuanya menjadi penguasa Cirebon dan mendirikan keraton yang diberi nama Pakungwati di sebelah timur keraton Sultan Kasepuhan kini. Syarif Hidayatullah dikenal juga sebagai Sunan Gunungjati, salah seorang Wali Sanga yang menyebarkan Islam di Tatar Sunda dan sebagai kepala pemerintahan. Sejak saat itu Cirebon tidak lagi memberikan upeti kepada kerajaan Sunda Pajajaran di Pakuan.

            Kemungkinan Islam pada saat itu sudah mulai masuk tetapi mungkin secara terbatas di daerahnya, justru Pangeran Cakrabuana mendirikan pesantren untuk tempat mengajar dan penyebaran agama Islam. Kegiatan penyebaran Islam semakin diintensifkan oleh Sunan Gunungjati dengan mendirikan Masjid Cipta Rasa di sisi barat alun-alun keraton Pakungwati. Penyebaran Islam semakin meluas, seperti ke Kuningan, Talaga, Galuh pada tahun 1528-1530, dan ke Banten sekitar tahun 1525-1526 bersama putranya Maulana Hasanuddin.

            Pada tahun 1527 ia mendorong Fadhillah sebagai menantunya dan juga untuk membantu Demak sebagai panglima dalam penyerangan ke Kalapa yang masih dikuasai kerajaan Sunda dan melakukan hubungan dengan Portugis dari Malaka.

Sunan Gunungjati wafat pada tahun 1568 dan dimakamkan di Bukit Sembung. Penggantinya yaitu buyutnya yang dikenal dengan Panembahan Ratu putra Pangeran Suwarga yang telah meninggal pada 1565. Pada masa pemerinntahannya, hubungan antara Cirebon dan Mataram masih baik dan dihubungkan dengan perkawinan. Seperti perkawinan antara kakak perempuan Panembahan Ratu, Ratu Ayu Sakluh dengan Sultan Agung Mataram yang melahirkan Amangkurat I. Panembahan Ratu II dipanggil ke Mataram dan selama 12 tahun tidak kembali hingga wafatnya pada 1662 dan dimakamkan di bukit Girilaya. Kedua orang putranya, yaitu Martawijaya dan Kartawiajaya yang pada masa pemberontakan Pangeran Trunajaya diperbolehkan kembalik ke Cirebon. Dengan pertolongan Banten, kedua putra itu diambil dari Surabaya kemudian dibawa ke Banten dan diberi gelar Sultan Pangeran Martawijaya sebagai Sultan Sepuh I dan Pangeran Kartawijaya sebagai Sultan Kanoman.

Keberadaan Kesultanan Cirebon pada akhir abad ke-17 melalui perjanjian dengan VOC antara lain perjanjian 7 Januari 1681 Kesultanan Cirebon mulai dicampuri politik kolonial VOC, dan selanjutnya di bidang ekonomi perdagangan merupakan monopoli VOC, seperti pakaian dan opium. Begitu pula dengan komoditas yang lainnya, seperti lada, beras, kayu, gula, dsb berada di tangan VOC.

Sejak tahun 1697, kekuasaan keraton Kasepuhan dan Kanoman dibagi menjadi Kacirebonan dan Kaprabonan. Dari pemecahan inilah menurut Sharon Sidiqque, Kesultanan Cirebon sejak 1681 hingga 1940 terus mengalami kemerosotan karena kolonialisme. Menurut beberapa ahli sebelum tahun 1681, Cirebon merupakan pusat keagamaan. Tasawuf dan tarekat-tarekat Islam seperti Kubrawiyah, Qadariyah, Shattariyah, dan Tijaniyah berkembang di Cirebon. Cirebon sebagai pusat keagamaan banyak menghasilkan naskah-naskah kuno seperti Babad Tjerbon, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari dan Pepakem Tjerbon.

Kerajaan Banten

Berdasarkan sumber-sumber lokal, seperti Babad/Sejarah Banten, Hikayat Hasanuddin, Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari, Babad Tjerbon, dan lainnya ditambah dengan sumber dari Portugis dan Cina, diketahui bahwa sebelum berbentuk Kesultanan, pada tahun 1525/1526 Banten merupakan daerah dibawah kekuasaan kerajaan Sunda Pajajaran. Pada saat itu Banten merupakan kadipaten kerajaan Sunda Pajajaran yang berpusat di Bogor antara sungai Cisadane-Ciliwung dan Cipakancilan. Pusat kadipaten Banten terletak di Wahanten Girang, sebelah barat kota Serang, yang konon dipimpin oleh Pucuk Umun.

Ketika kehadiran Tome Pires pada kala itu, Banten masih merupakan bagian dari kerajaan Sunda Pajajaran. Banten merupakan kota Pelabuhan, seperti halnya Kalapa, Cimanuk, dan Cirebon. Komoditas yang diekspor dari Pelabuhan di Banten, yaitu beras dan lada. Sebaliknya pelabuhan Banten didatangi oleh para perdagang yang berasal dari luar pulau, seperti Maladiva, Sumatra, dan lainnya.

Dalam berita Cina, perdagangan di Banten telah disebut-sebut. Dengan demikian dapat disimpulkan semenjak abad ke-15 M, Banten termasuk ke dalam pelabuhan penting yang berada di jalur perdagangan sutra (Silk Road). Semua itu dapat dibuktikan dengan temuan pecahan keramik dari masa Dinasti Sung sampai Ming dari abad ke-10-15 M yang ditemukan di Banten Girang. Menurut Babad/Sajarah Banten, situs Banten Girang merupakan tempat yang direbut oleh muslim dibawah pimpinan Maulana Hasanuddin, putra Syarif Hidayatullah yang diberi sengkala, brasta gempung warna tunggal (1478 M).

Menurut Dr. Hoesein Djayadiningrat jatuhnya Banten Girang antara tahun 1525-1526 M.  Setelah itu Banten Girang ditinggalkan dan pusat kerajaan dipindahkan ke Surasowan dekat sekali ke Teluk Banten. Atas petunjuk Sunan Gunungjati kepada putranya, di tempat yang baru ia mendirikan keraton, masjid, alun-alun, pasar dan lainnya selayaknya suatu kota. Lokasi Surasowan sangat strategis dan cocok untuk pertumbuhan, perkembangan dan bahkan memuncaknya kesultanan.

Karena Malaka telah dikuasai oleh Portugis, maka Banten semakin berarti bagi pelayaran dan perdagangan internasional melalui selat sunda. Selain merupakan pusat politik, perekonomian dan perdagangan, Banten juga merupakan pusat keagamaan dan kebudayaan. Sejak masa pemerinatahan Maulana Hasanuddin, Lampung telah masuk ke dalam kekuasaan Banten, begitu pula dengan Jayakarta sejak tahun 1527 telah masuk ke dalam Kesultanan Banten.

Pada pemerintahan Maulana Yusuf, Kesultanan Banten mengalami kemajuan di bidang pembangunan kota, desa-desa, dan pembuatan persawahan dan perladangan seperti yang tercantum di Babad/Sejarah Banten. Pada masa pemerintahannya Banten juga dapat mengalahkan pusat kerajaan Pajajaran di Pakuan.

            Setelah ia wafat, digantikan oleh Maulana Muhammad (1530-1596). Ia melakukan penyerangan terhadap Palembang yang mungkin serangannya itu didasarkan pada permasalahan ekonomi, tetapi ia gugur di dalam peperangan di Palembang hingga mendapat julukan Panembahan Seda ing Rana. Pada masa itu Banten mulai didatangi oleh bangsa Barat di bawah pimpinan Cornelis de Houtman.

            Penggganti Maulana Muhammad adalah putranya yang masih kecil, yaitu Abulmafakhir Mahmud Abdulkadir tahun 1596-1651. Selama masa pemerintahannya, ia dirongrong oleh Belanda dan selalu dihadapi dengan peperangan. Pada masa pemerintahannya Kesultanan Banten mengirimkan utusan ke Mekkah, yaitu Lebe Panji dan Trisnajaya untuk menanyakan isi kitab-kitab tentang Wujudiyah dan memohon dikirimkan seorang ahli hukum, fakih, tetapi permintaan tersebut tidak dikabulkan oleh Syarif Mekkah. Sekembalinya dari Mekkah utusan itu dibawakan hadiah berupa sehelai bendera Nabi Ibrahim, sepotong kain penutup makam Nabi Muhhammad, dan sepotong kiswah penutup Kakbah.

            Kesultanan Banten pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa mencapai puncaknya pada bidang politik, perekonomian, perdagangan, keagamaan, dan kebudayaan. Dalam bidang politik, Kesultanan Banten terus melawan pihak VOC baik di darat maupun laut. Sehingga peperangan diantara keduanya terjadi pada tahun 1658-1659 M. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, hubungan diplomatik juga terjadi, seperti dikirimkan utusan diplomatik ke Inggris dibawah pimpinan Tumenggung Naya Wipraya, dan Jaya Sedana. Hubungan persahabatan dengan negeri-negeri di Inonesia pun berjalan dengan baik, seperti dengan Cirebon, Lampung, Gowa, Ternate, Aceh, dan lainnya.

            Dalam bidang perdagangan internasional, Kesultanan Banten semakin dikembangkan dengan negeri-negeri Inggris, Prancis, Denmark, dan sebagainya. Kemajuan di bidang perdagangan tersebut tidak hanya tercatat di dalam harian Belanda, tetapi juga adanya pecahan keramik dan benda lainnya dari Cina, Jepang dan bahkan Eropa.

            Kesultanan Banten mulai mengalami kemunduran sejak terjadinya peperangan kelompok yang dipimpin putranya, yaitu Sultan Abu Nasr Abdul Kahar yang dibantu VOC melawan kekuasaan ayahnya, Sultan Ageng Tirtayasa. Jatuhnya Surosowan, tertangkapnya Sultan Ageng Tirtayasa dan adanya perjanjian antara VOC dengan Sultan Abu Nasr Abdul Kahar, berakibat Sultan Haji harus mengganti kerugian sebesar 12.000 ringgit dan pendirian benteng Speelwijk.

            Masuknya monopoli VOC pada bidang politik ataupun ekonomi-perdagangan membuat Kesultanan Banten melemah. Meskipun masih terdapat perang gerilya dibawah pimpinan Syekh Yusuf, tetapi tidak begitu memberikan dampak yang berarti. Pergantian sultan yang dipengaruhi oleh VOC selalu menimbulkan pemberontakan-pemberontakan. Pada tahun 1808, Belanda menghapuskan pemerintahan Kesultanan menjadi kabupaten-kabupaten Serang, Saringin, dan Lebak berada di bawah pemerintah Hindia Belanda. Walaupun demikian rakyat Banten dibawah pimpinan kiai dan haji selalu melakukan pemberontakan, di antaranya yaitu pemberontakan petani tahun 1888 di Cilegon di bawah pimpinan Kiai Haji Wasid.

REFERENSI

Sejarah Nasional Indonesia Jilid 3 : Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia.

Komentar